Minggu, 31 Maret 2013

Menjelma Menjadi Pahlawan Sejati


 Judul Buku     : The Real Hero; Menjadikan Anda Pahlawan Sejati dalam Kehidupan
Penulis            : Hawari Aka
Penerbit          : Langit Media
Cetakan          : I, Oktober 2012
Tebal               : xxiv + 172 halaman
Peresensi         : Eka Siti Nurjanah*)

Pemberani dan gagah adalah hal-hal yang seringkali kita identikan dengan sebutan pahlawan. Bung Tomo, Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro adalah beberapa contoh pahlawan besar yang sangat kita kenal dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Berawal dari hal besar yang mereka lakukan, kemudian dijadikanlah perjuangan mereka sebagai contoh dari konsep untuk memaknai kata pahlawan. Hingga kemudian secara tidak langsung yang tertanam dalam mind-set kita adalah konsep pahlawan yang identik dengan pengorbanan fisik. Hal tersebut tentu saja membatasi konsep tentang arti pahlawan yang sebenarnya.
Tokoh-tokoh pahlawan seperti yang telah disebutkan di atas, atau seperti tokoh-tokoh dalam film-film sebenarnya tidak salah untuk dijadikan contoh dalam memaknai arti kata pahlawan. Hanya saja konsep yang disampaikan bahkan sejak duduk disekolah dasar adalah dengan mengenalkan tokoh-tokoh pahlawan yang identik dengan pengorbanan fisik. Hal tersebut merupakan penjelasan yang kurang tepat. Seharusnya dalam memberikan penjelasan tidak serta merta bahwa pahlawan adalah seseorang yang rela berkorban dan gugur dalam perjuangan. Namun juga menjelaskan makna pahlawan dengan memberikan contoh yang lain, misalnya berkenaan dengan kehidupan sehari-hari dan kepribadian yang baik. Bahkan tokoh-tokoh diatas seperti Bung Tomo, Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro mampu menjadi pahlawan bangsa karena mereka mengawalinya dengan belajar menjadi pribadi yang baik  dan terus memperbaiki diri terlebih dahulu.
Maka kali ini, kita akan belajar mengenal dan menjadi sosok pahlawan yang berbeda. Kita tidak perlu lagi menjadi pahlawan yang harus memakai berbagai macam atribut. Melainkan, kita akan menjelma menjadi sosok pahlawan sejati dalam kehidupan. Baik untuk kehidupan pribadi maupun memberi manfaat bagi kehidupan orang banyak lainnya. Menjadi sosok pahlawan yang selalu terus berjuang memperbaiki diri di tengah hiruk pikuk permasalahan yang ada.
Lewat bukunya yang berjudul The Real Hero, Hawari memaparkan 8 kunci bagaimana menjadi pahlawan kehidupan yang lebih baik. Hawari membaginya antara lain dengan: 1) Bagaimana Cara Berpikir, 2) Besarnya Impian, 3) Berani Berproses, 4) Berani Gagal, 5) Menjadi yang Terbaik, 6) Persahabatan, 7) Enam Pondasi Kesuksesan, dan 8) Do’a. Kedelapan hal tersebut semuanya saling bersinergi.
Dari bab-bab yang akan dibahas dalam bukunya, Hawari meletakkan bab “Bagaimana cara berpikir” di bab pertama. Mengapa mengetahui bagaimana cara berpikir perlu dibahas pertama kali? Jelas bahwa segala tindakan dan apapun yang kita rencanakan dimulai dengan berpikir. dan cara berpikir yang tepat yang akan menentukan seperti apa sikap kita dalam melaksanakan dan merespon suatu persoalan maupun kejadian tertentu. Selain itu, dengan tahu bagaimana cara berpikir lah yang akan menentukan menjadi seperti apa kita nantinya. Peribahasa mengatakan, berpikir besar maka kita akan memperoleh hasil yang besar, dan berpikir kerdil maka kita akan menjadi semakin kecil. Maka menjelma menjadi sosok pahlawan itu bukanlah tidak mungkin selama kita mau mengubah cara berpikir kita dan mau berproses menjadi lebih baik (halaman 13).
Contoh lugas yang dipaparkan oleh penulis dalam buku ini antara lain pencapaian luar biasa dari seorang Obama. Obama adalah orang Afrika yang pertama kali terpilih menjadi Presiden Amerika. Lalu bagaimana cara berpikir Obama hingga ia mampu menjadi sosok yang luar biasa? Obama berani berpikir besar. Ia mencanangkan mimpinya itu sejak usia 5 tahun. Dengan tujuannya itulah ia kemudian mampu belajar ilmu politik di University of  Columbia dan melanjutkannya ke Harvard University (halaman 17).
Berawal dengan berani berpikir besar, Obama terus giat belajar, mempelajari politik, mengikuti organisasi dan kegiatan-kegiatan sosial. Semua itu menjadikannya terasah dan memiliki berbagai pengalaman yang ia perlukan untuk menjadi seorang Presiden Amerika (halaman 18). 
Berdasarkan contoh kisah tersebut, pahlawan tidak lagi diidentikan hanya dengan pengorbanan fisik berupa nyawa atau semacamnya. Namun, yang perlu ditekankan bahwa pahlawan sejati  sebenarnya adalah terus berjuang untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan. Selalu berani berpikir besar, bermanfaat dan menghadapi kekurangan-kekurangan maupun masalah yang kadang sering membuat kita terjatuh dan tidak berani bangkit kembali.
“Orang-orang besar tidak begitu saja memperoleh kebesaran, apalagi keberuntungan. Mereka tidak secara tiba-tiba menjadi tenar dan terkenal. Bill Gates, David Beckham, Donald Trump, Waren Buffet, Ricard Branson, Jet Li, Stallone dan Barack Obama tidak begitu saja mencapai posisi seperti sekarang ini. Mereka menjadi sukses dan terkenal karena memiliki satu persamaan; mereka berani berpikir besar dan menetapkan tujuan besar sejak usia muda”, demikian apa yang telah dipaparkah Hawari dengan lugas dalam bukunya (halaman 15).
Hawari telah berhasil mengemas konsep pahlawan sejati dengan begitu menggugah. Konsep dan pembentukan pemikiran yang positif telah tergambar di dalamnya. Ia ingin menunjukkan bahwa siapapun mampu menjadi pahlawan sejati selama berani untuk berpikir besar dan menghadapi proses yang terjadi dalam hidupnya. Jadi, semua tergantung bagaimana cara berpikir kita dan bagaimana kita mengupayakannya. Maka, buku ini penting untuk dibaca bagi Anda yang ingin menjelma maenjadi pahlawan sejati dalam kehidupan. Selamat membaca!

*) Peresensi adalah Pecinta Buku dari Yogyakarta

Kisah Inspiratif Menjadi Penulis


Judul Buku     : A Cup of Tea for Writer
Penulis            : Triani Retno A, Herlina P Dewi, dkk. 
Penerbit          : Stiletto Book 
Cetakan          : I, September 2012
Tebal               : xi + 195 halaman
Peresensi         : Eka Siti Nurjanah*)
            Dewasa ini, tidak sedikit buku mengenai kiat-kiat menulis yang beredar, tapi kurang begitu mengena bagi pembaca. Kiat-kiat itu tepat. Bahkan luar biasa. Tapi bagaimana jadinya jika motivasi si pembaca yang ingin menulis itu tidak dibangun terlebih dahulu. Tentu kiat-kiat jitu yang ada dalam buku tersebut seolah tinggal raga tanpa jiwa. Sebatas tips-tips yang tidak akan ada artinya jika si pembaca tidak memiliki ruh yang kuat untuk merealisasikannya.
Sementar itu, menulis menurut sebagian orang adalah suatu hal yang amat sulit dilakukan. Sehingga untuk membangun sebuah hubungan antara buku dan si pembaca perlulah dibuat agar buku tersebut hidup dan berbicara agar memotivasi si pembaca, meyakinkan bahwa menulis bisa dilakukan oleh semua orang, menulis bukanlah suatu hal yang memikirkan kata ‘menulis’nya saja sudah menakutkan.
Disinilah pentingnya bagaimana memberi motivasi kepada si pembaca yang ingin mampu menulis dengan baik dan menarik. Motivasi yang telah terbangun di dalam diri pembaca membuatnya lebih mudah memahami dan merealisasikan kiat-kiat menulis. A Cup Of Tea For Writer menyajikan kisah perjalanan para penulis yang luar biasa. Baik yang dulunya hanya berniat mengisi waktu senggang, ingin terkenal, hingga mencari nafkah. Dari yang memang benar-benar belum pernah menulis sampai yang terbiasa menulis tapi mengalami penolakan dalam menerbitkan tulisan-tulisan mereka.
Widya, sebelum menjadi seorang penulis, adalah seorang wanita karir yang menjabat sebagai sekretaris general manager di sebuah perusahaan swasta. Kejenuhannya terhadap pekerjaan yang ia tekuni saat itu membuatnya kurang tertantang. Bahkan merasa bahwa pekerjaannya amat membosankan. Sampai pada suatu ketika, salah seorang temannya memberikan hadiah sebuah buku yang cukup fenomenal padanya. Buku yang berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ternyata menyita kemauannya untuk dapat menulis. Rupaya Widya telah dibuat jatuh hati pada tulisan Andrea Hirata. Ia pun tertantang untuk dapat menulis sebgaimana yang dilakukan oleh Andrea Hirata yang dulunya hanya seorang pegawai telkom, namun saat ini hidupnya cukup mapan hanya karna menulis.
Widya kemudian menargetkan bahwa ia harus dapat memegang kendali atas pekerjaannya, ia tidak ingin dikendalikan lagi oleh atasannya. Dengan segala rasa percaya diri-nya, ia mulai menulis sebuah cerpen.  Bahkan temannya terkejut karna Widya bisa menulis. Untuk pertama kalinya, tulisan Widya berhasil dimuat. Namun saat itu hanya mendapat ucapan terima kasih. Hal itu tidak menjadikannya putus asa, justru ia semakin gila untuk terus menulis dan mendapatkan honor. Obsesinya itu kemudian membuahkan hasil. Tulisannya dimuat di majalah Bravo! dan kemudian majalah Gadis.
Namun pada tulisan yang selanjutnya ia gagal. Widya hampir putus asa. Dari kegagalannya itu ia kembali mencoba menulis dan terus menulis. Hingga akhirnya, karyanya berhasil masuk menjadi 10 nominasi terbaik dalam Write Story Contest Erlangga for Kids 2010 yang ia ikuti. Semenjak itu tulisannya terus bertengger di media masa dan telah menghasilkan tulisan dengan total kurang lebih 60 naskah selama kurang lebih 2,5 tahun.
Begitulah kisah Widya dalam perjalannya memulai menjadi seorang penulis. Diproses dari berbagai masalah yang mematangkan pribadi dan mental. Gigih memperjuangkan niat dan usaha untuk sebuah jati diri yang sebenarnya. Menjadi kaya dengan hasil jerih payah berpikir. Dan kaya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah didapatkan. Mengalami penolakan sekaligus kegagalan. Tapi semua itu adalah batu loncatan untuk meraih kematangan pribadi dan kesuksesan.
Masih banyak lagi kisah dari para penulis yang gigih menekuni profesi yang sering dianggap remeh temeh sebagian orang. Profesi yang masih sering dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain menyia-nyiakan waktu. Namun, bukti berkata lain. Kisah inspiratif dalam A Cup Of Tea For Writer telah menunjukkan bahwa menulis itu pekerjaan yang nyaman. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bahkan bisa dilakukan oleh siapa saja yang berani membuat perubahan. Menulis mampu menorehkan sejarah dan menjadi rekaman dari berbagai peristiwa. Bahkan menulis bisa memberikan pendapatan yang menjanjikan. 
Melalui buku ini, pembaca akan belajar dari berbagai kisah yang disajikan. Buku ini akan membawa kita memahami betapa berartinya menulis. Motivasi yang tersirat dan tersurat di buku ini telah dikemas dengan apik oleh para penulisnya. Mereka ingin menunjukkan bahwa menulis bisa dimulai dari mana saja. Bahkan yang tidak berbakat dalam tulis menulis sekalipun. Asal di dalam diri terdapat kemauan dan tekad yang kuat, maka menulis akan menjadi sebuah profesi, bukan sekedar pekerjaan atau tuntutan lagi. Bahkan menjadi hobi, yang tidak akan lengkap manakala kita tidak melakukan kegiatan yang satu itu, yang tidak lain adalah menulis.
Jadi, kembalikan lagi semangat menulis Anda dengan membaca A cup of tea for writer, dan teguk segarnya secangkir teh lewat kisah-kisah inspiratif  di dalamnya. Selamat membaca dan kembali menulis.

*) Pecinta buku


.


Sabtu, 05 Januari 2013

Mengintip Perbincangan Perempuan

 


Kedaulatan Rakyat, 16 Desember 2012

Judul Buku     : Girl Talk; 60 Perempuan, 30 Kisah.

Penulis         : Lala Purwono

Penerbit        : Stiletto Book

Cetakan        : I, Juni 2012

Tebal          : x + 188 halaman

Peresensi       : Eka Siti Nurjanah*)


Bercerita, banyak ngomong, nggosip, selalu diidentikan dengan perempuan. Sehingga segala hal diceritakan. Mulai dari yang memang penting sampai remeh temeh. Meski sesungguhnya bukan sekadar penting tidaknya yang diceritakan, tapi kepuasan batin. Mereka berpikir, bagaimana mengungkapkan perasaan, menemukan solusi, adanya dukungan dan meski hanya sekadar didengarkan.


Buku ini, membawa kita untuk mengeksplorasi apa saja yang diperbincangkan sebagian besar perempuan. Kita akan tahu seperti apa mereka berceloteh tentang hidup mereka, bahagia, penantian, penderitaan, suka duka, sakit hati karena cinta, laki-laki, kehamilan dan lain kisah heboh yang diperbincangkan.
Mungkin, kisah inipun tak jauh dari kisah Anda sendiri.


Seperti kisah kakak adik; Mita dan Gita. Mita perempuan menikah dan belum dikaruniai anak. Sedang Gita adalah kakak yang belum menikah di usia yang ke 40. Mita mengeluhkan selalu hadirnya pertanyaan yang membuat tertekan dan merasa tersudutkan : kapan hamil, kenapa belum hamil dan lainnya (hal 171). 

Sebagai kakak, Gita memberi masukan amat bijak. Tak semua orang memiliki cara berpikir sama dengan mereka berdua, termasuk soal kehamilan. Daripada susah mengubah pola pikir banyak orang, maka lebih baik mengubah pola pikir sendiri. Maka, biarkan orang bertanya sesuka mereka, tinggal kita jawab saja dengan jawaban simple, tegas serta sebuah senyuman. Supaya mereka sadar dengan sendirinya bagaimana cara berkomunikasi dengan baik (hal 172-174)


Cerita di atas hanyalah satu dari 30 kisah. Tak hanya sekadar serita yang disajikan dalam buku ini, namun hikmah dibalik setiap cerita pun tersirat bahkan tersurat dengan baik. Dan hikmah itu berhasil dikemas dengan apik tanpa menggurui lewat cerita perempuan yang selama ini bisa kita pandang remeh. Girl Talk tak sekadar memberikan cerita kosong. Tapi juga memberikan solusi atas problem kebanyakan perempuan, hikmah dan mampu membuka sebuah pandangan baru dari tiap cerita yang ada. Bisa jadi, cerita itu adalah kisah kita sendiri pula.


Maka, jangan menganggap enteng kebiasaan perempuan bercerita. Tak selamanya mereka hanya bergosip. Tak selamanya mereka membahas hal-hal kecil atau negatif yang menghabiskan waktu. Tapi mereka bercerita, berbagi solusi dan saling menguatkan serta memberikan dukungan. Jadi, jangan sampai meninggalkan buku ini begitu saja. Siapa tahu, Anda juga mengalami kisah senada dan mungkin bisa menemukan solusinya.


*) Eka Siti Nurjanah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FBS UNY