Judul Buku :
A Cup of Tea for Writer
Penulis :
Triani Retno A, Herlina P Dewi, dkk.
Penerbit :
Stiletto Book
Cetakan :
I, September 2012
Tebal :
xi + 195 halaman
Peresensi :
Eka Siti Nurjanah*)
Dewasa ini, tidak sedikit buku mengenai
kiat-kiat menulis yang beredar, tapi kurang begitu mengena bagi pembaca.
Kiat-kiat itu tepat. Bahkan luar biasa. Tapi bagaimana jadinya jika motivasi si
pembaca yang ingin menulis itu tidak dibangun terlebih dahulu. Tentu kiat-kiat
jitu yang ada dalam buku tersebut seolah tinggal raga tanpa jiwa. Sebatas
tips-tips yang tidak akan ada artinya jika si pembaca tidak memiliki ruh yang
kuat untuk merealisasikannya.
Sementar itu, menulis menurut sebagian orang adalah
suatu hal yang amat sulit dilakukan. Sehingga untuk membangun sebuah hubungan
antara buku dan si pembaca perlulah dibuat agar buku tersebut hidup dan
berbicara agar memotivasi si pembaca, meyakinkan bahwa menulis bisa dilakukan
oleh semua orang, menulis bukanlah suatu hal yang memikirkan kata ‘menulis’nya
saja sudah menakutkan.
Disinilah pentingnya bagaimana memberi
motivasi kepada si pembaca yang ingin mampu menulis dengan baik dan menarik.
Motivasi yang telah terbangun di dalam diri pembaca membuatnya lebih mudah
memahami dan merealisasikan kiat-kiat menulis. A Cup Of Tea For Writer menyajikan
kisah perjalanan para penulis yang luar biasa. Baik yang dulunya hanya berniat
mengisi waktu senggang, ingin terkenal, hingga mencari nafkah. Dari yang memang
benar-benar belum pernah menulis sampai yang terbiasa menulis tapi mengalami
penolakan dalam menerbitkan tulisan-tulisan mereka.
Widya, sebelum menjadi seorang penulis, adalah
seorang wanita karir yang menjabat sebagai sekretaris general manager di
sebuah perusahaan swasta. Kejenuhannya terhadap pekerjaan yang ia tekuni saat
itu membuatnya kurang tertantang. Bahkan merasa bahwa pekerjaannya amat
membosankan. Sampai pada suatu ketika, salah seorang temannya memberikan hadiah
sebuah buku yang cukup fenomenal padanya. Buku yang berjudul Laskar Pelangi
karya Andrea Hirata ternyata menyita kemauannya untuk dapat menulis. Rupaya
Widya telah dibuat jatuh hati pada tulisan Andrea Hirata. Ia pun tertantang
untuk dapat menulis sebgaimana yang dilakukan oleh Andrea Hirata yang dulunya
hanya seorang pegawai telkom, namun saat ini hidupnya cukup mapan hanya karna
menulis.
Widya kemudian menargetkan bahwa ia harus dapat
memegang kendali atas pekerjaannya, ia tidak ingin dikendalikan lagi oleh
atasannya. Dengan segala rasa percaya diri-nya, ia mulai menulis sebuah
cerpen. Bahkan temannya terkejut karna
Widya bisa menulis. Untuk pertama kalinya, tulisan Widya berhasil dimuat. Namun
saat itu hanya mendapat ucapan terima kasih. Hal itu tidak menjadikannya putus
asa, justru ia semakin gila untuk terus menulis dan mendapatkan honor. Obsesinya
itu kemudian membuahkan hasil. Tulisannya dimuat di majalah Bravo! dan
kemudian majalah Gadis.
Namun pada tulisan yang selanjutnya ia gagal.
Widya hampir putus asa. Dari kegagalannya itu ia kembali mencoba menulis dan
terus menulis. Hingga akhirnya, karyanya berhasil masuk menjadi 10 nominasi
terbaik dalam Write Story Contest Erlangga for Kids 2010 yang ia ikuti.
Semenjak itu tulisannya terus bertengger di media masa dan telah menghasilkan
tulisan dengan total kurang lebih 60 naskah selama kurang lebih 2,5 tahun.
Begitulah kisah Widya dalam perjalannya memulai
menjadi seorang penulis. Diproses dari berbagai masalah yang mematangkan
pribadi dan mental. Gigih memperjuangkan niat dan usaha untuk sebuah jati diri
yang sebenarnya. Menjadi kaya dengan hasil jerih payah berpikir. Dan kaya
dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah didapatkan. Mengalami penolakan
sekaligus kegagalan. Tapi semua itu adalah batu loncatan untuk meraih
kematangan pribadi dan kesuksesan.
Masih banyak lagi kisah dari para penulis yang
gigih menekuni profesi yang sering dianggap remeh temeh sebagian orang. Profesi
yang masih sering dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain
menyia-nyiakan waktu. Namun, bukti berkata lain. Kisah inspiratif dalam A Cup
Of Tea For Writer telah menunjukkan bahwa menulis itu pekerjaan yang
nyaman. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bahkan bisa dilakukan oleh
siapa saja yang berani membuat perubahan. Menulis mampu menorehkan sejarah dan
menjadi rekaman dari berbagai peristiwa. Bahkan menulis bisa memberikan
pendapatan yang menjanjikan.
Melalui buku ini, pembaca akan belajar dari
berbagai kisah yang disajikan. Buku ini akan membawa kita memahami betapa
berartinya menulis. Motivasi yang tersirat dan tersurat di buku ini telah
dikemas dengan apik oleh para penulisnya. Mereka ingin menunjukkan bahwa
menulis bisa dimulai dari mana saja. Bahkan yang tidak berbakat dalam tulis
menulis sekalipun. Asal di dalam diri terdapat kemauan dan tekad yang kuat, maka
menulis akan menjadi sebuah profesi, bukan sekedar pekerjaan atau tuntutan lagi.
Bahkan menjadi hobi, yang tidak akan lengkap manakala kita tidak melakukan
kegiatan yang satu itu, yang tidak lain adalah menulis.
Jadi, kembalikan lagi semangat menulis Anda
dengan membaca A cup of tea for writer, dan teguk segarnya secangkir teh
lewat kisah-kisah inspiratif di
dalamnya. Selamat membaca dan kembali menulis.
*) Pecinta buku
*) Pecinta buku
.

pengen jadi penulis juga........ tapi waktu luang untuk menumpahkan semua itu sangat sempit. lalu bagai mana?
BalasHapusassalamu'alaikum Dear Arum... salam kenal.. masyaAllah...
Hapustekunilah pelan-pelan, insyaallah apa yang kita cita kan kelak tercapai ^^